Setiap pagi, jutaan orang di Jakarta memulai hari dengan ritme yang sama.
Bangun, mandi seadanya, buru-buru keluar rumah, lalu… masuk ke arus besar komuter Jakarta: halte, bus, dan rute yang setiap hari mereka lewati tanpa pernah berubah.
Dan di tengah rutinitas yang monoton itu… ada satu hal yang diam-diam membuat sebuah brand terus menempel di kepala mereka.Sesuatu yang tidak bisa mereka skip, tidak bisa mereka matikan, tidak bisa mereka geser seperti iklan di HP.
Fenomena ini disebut The Commuter Effect.
Bagian 1: Ritme Kota, Ritme Manusia
Coba bayangkan seorang karyawan bernama Raka. Setiap hari ia berangkat dari Bekasi ke Sudirman, melewati jalur Transjakarta yang sama. Dia turun di halte yang sama, lewat pintu yang sama, bahkan posisi berdirinya sering sama.
Dan tanpa ia sadari, ada satu hal yang selalu hadir dalam rutinitas kecil ini:
Sebuah iklan.
Terkadang ia melihatnya sekilas saat masuk halte.
Kadang saat menunggu bus datang.
Kadang saat duduk di kursi dekat jendela.
Awalnya, dia tidak peduli.
Hari kedua, masih tidak peduli.
Hari ketiga, mulai notice sedikit.
Hari ketujuh… dia mulai hafal warnanya.
Hari ke-21… dia mulai sadar: “Iya ya, brand ini kayaknya ada di mana-mana.”
Padahal dia cuma lewat tempat yang sama setiap hari.
Itu kekuatan pertama dari Commuter Effect:
Orang, tempat, dan waktu berjalan dalam pola yang sama setiap hari.
Bagian 2: Otak Tidak Bisa Melawan Repetition
Otak manusia punya satu kebiasaan aneh. Jika melihat sesuatu berulang kali, ia akan menganggapnya penting.
Komuter bukan lewat sekali dua kali. Kadang mereka lewat titik yang sama ratusan kali dalam sebulan. Dan tiap kelewatan itu, ada exposure baru yang masuk ke kepala.
Inilah yang bikin brand yang tampil di rute komuter punya keunggulan besar:
- mereka sulit dihindari
- sulit tidak diperhatikan
- dan makin lama makin nempel
Marketing menyebutnya Top of Mind. Aruna menyebutnya: momentum paling murah tapi paling powerful.
Bagian 3: Attention yang Tidak Bisa Disangkal
Di saat orang scrolling TikTok atau IG, perhatian mereka cuma 1–2 detik.
Tapi di transportasi umum? Waktu berhenti sejenak.
Orang menunggu bus. Orang duduk sambil bengong. Orang melihat sekitar untuk mengisi waktu. Dan di momen “kosong” inilah iklan bekerja paling efektif.
Ada riset yang menunjukkan bahwa iklan yang dilihat saat orang menunggu atau berada di ruang terbatas biasanya punya retention lebih tinggi. Karena otak sedang idle, dan visual yang konsisten akan masuk lebih dalam.

Bagian 4: Kenapa Brand Besar Selalu Masuk Transportasi Umum
Karena mereka paham satu hal:
Jika kamu ingin brand kamu diingat, kamu harus berada di rute keseharian orang — bukan cuma di layar mereka.
Selama bertahun-tahun, transportasi umum menjadi media paling underrated.
Tidak se-seksi iklan digital.
Tidak se-viral TikTok.
Tidak se-flexy billboard LED.
Tapi dari sisi behavior, media ini menang telak:
- repetisi tinggi
- audiens yang sama setiap hari
- atensi yang tidak bisa kabur
- lingkungan yang stabil
- biaya yang relatif lebih efisien untuk jangka panjang
The Commuter Effect bukan teori. Ini realita lapangan yang Aruna lihat setiap hari saat membantu brand tampil di titik-titik komuter strategis Jakarta.
Bagian 5: Jadi, Apa Artinya untuk Brand Anda?
Jika brand Anda ingin:
- awareness meningkat secara konsisten
- pesan brand diingat tanpa dipaksa
- tampil di tengah rutinitas audiens
- bertemu orang yang sama setiap hari
- masuk ke memori jangka panjang pelanggan
Maka transportasi umum adalah salah satu channel paling strategis yang bisa Anda gunakan.
Transportasi umum bukan hanya media, ini bagian dari hidup jutaan orang Jakarta, dan brand yang hadir di dalamnya akan ikut hidup dalam pikiran mereka.
Saatnya Membuat Brand Anda Bergerak
Di Aruna, kami percaya bahwa brand yang kuat adalah brand yang hadir dan menyatu dalam aktivitas dan behaviour orang-orang, bukan hanya di feed mereka.
Jika Anda ingin mengeksplor titik-titik komuter paling strategis di Jakarta, Lets discuss.
📧 ihzam@arunaciptamedia.com
📱 081-999-326-999
Let’s make your brand move.





